Toko Mainan, Jual Mainan Anak, Mainan Kayu, Grosir Mainan Edukatif, Supplier Mainan Anak, Distributor Mainan, Mainan Edukasi, Pusat Grosir, Reseller Mainan, Mainan Bayi, Mainan Online, Toko Online
  • STATUE OF LIBERTY 3D PUZZLE (C080h)
  • NEUSCHWANSTEIN CASTLE 3D PUZZLE (MC062h)
  • EIFFEL TOWER 3D PUZZLE (MC091h)
  • WRC Series (C037H) (SW070)
  • Empire State Building (MC048H)
  • Capitol (MC074H)
  • Himeji-Jo (MC099H)
  • St. Patrick's Cathedral (MC103H)
  • Hungarian Parliament Building (MC111H)
News

Agar IQ Anak Tidak Jongkok

24 Agustus 2011

Anda memiliki anak dengan permukaan lidah halus tanpa papil (bintik-bintik) atau kuku jari tangannya pecah-pecah dan berbentuk seperti sendok? Waspadalah, kondisi seperti itu merupakan gejala anemia defisiensi besi. Apalagi jika wajahnya tampak pucat, kondisi tubuhnya lemah, dan mudah lelah, komplet sudah gejala anemia kekurangan zat besi yang menyerang tubuhnya.
"Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang paling sering dijumpai," kata Profesor Djajadiman Gatot, dokter spesialis anak, dalam seminar bertajuk Action for Iron Deficiency Anemia di Jakarta dua pekan lalu. Ketua Satuan Tugas Anemia Defisiensi Besi Ikatan Dokter Anak Indonesia ini meminta masalah anemia tak dianggap enteng. Bila kondisi seperti itu dialami seorang anak sampai lebih dari dua tahun, kecerdasan si anak akan berkurang atau malah ber-IQ jongkok. "Jangan berharap IQ mereka lebih dari 100, paling tinggi 90-an," kata Djajadiman, "Pagi diajari, sore lupa!"
Anemia adalah berkurangnya kadar hemoglobin, unsur penting dalam sel darah merah yang berfungsi mengikat oksigen, di bawah nilai normal sesuai dengan usianya. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kondisi anemia terjadi pada anak usia 6 bulan-5 tahun jika hemoglobinnya kurang dari 11 gram/desiliter; usia 6-11 tahun, hemoglobinnya kurang dari 11,5 gr/dl; dan usia 12-18 tahun, hemoglobinnya kurang dari 12 gr/dl.
Menilik efek buruk anemia defisiensi besi yang begitu banyak, pemberian zat besi kepada yang membutuhkan harus secepatnya. Jika terlambat dan komplikasi sudah muncul, Djajadiman mengingatkan, bukan mustahil kekurangan zat besi tersebut akan lama sembuh atau malah tak bisa lagi diobati.
Angka kejadian anemia defisiensi besi pada anak di Tanah Air terbilang tinggi. Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001 menunjukkan angka kejadian pada anak bawah lima tahun (balita) mencapai 47 persen. Sedangkan Asian Development Bank memperkirakan ada 22 juta anak di Indonesia yang terkena anemia, yang menyebabkan hilangnya angka IQ sebesar 5-15 poin. Prestasi mereka di sekolah pun buruk.
Kekurangan zat besi pada anak bisa disebabkan oleh sejumlah faktor. Antara lain, asupan makanannya memang kurang mengandung zat besi, pertumbuhan saat bayi dan remaja berlangsung cepat, atau lantaran di ususnya bersarang cacing tambang.
Menurut Soedjatmiko, Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, makanan yang banyak mengandung besi terutama berasal dari protein hewani, seperti daging, ikan, dan hati. Cuma, dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak, yang semestinya membutuhkan zat besi tinggi dari daging merah atau hati, justru dikalahkan oleh orang tuanya. "Biasanya, saat makan, bapaknya yang mendapat jatah daging atau hati lebih besar, sedangkan anak-anaknya mendapat keratan yang lebih kecil," katanya.
Untuk menambal kekurangan zat besi pada anak-anak, Direktorat Bina Gizi, Kementerian Kesehatan, membuat terobosan dengan meluncurkan program Taburia pada Januari lalu. Ini adalah makanan berbentuk serbuk yang sudah diperkaya dengan zat gizi. "Taburia mengandung 12 vitamin dan 4 mineral penting, yakni yodium, seng, selenium, dan zat besi," kata Ivonne Kusumaningtyas dari Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan.
Selain praktis, serbuk penuh gizi ini tidak mengubah rasa aroma dan bentuk makan utama yang dikonsumsi balita, seperti nasi atau bubur. Namun Taburia tak boleh dicampur dengan sup, teh, atau susu, karena akan menggumpal. Pencampuran dengan makanan panas juga harus dihindari karena merusak lemak yang melapisi zat besi.
Setelah diujicobakan di Jakarta Utara dan dinilai sukses meningkatkan kadar zat besi bagi balita setempat, kini penggunaan Taburia diperluas ke enam provinsi yang menjadi lokasi proyek Nutrition Improvement Through Community Empowerment atau Perbaikan Gizi Melalui Pemberdayaan Masyarakat. Masing-masing adalah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan.
Jika balita yang mengkonsumsi Taburia mengalami susah buang air besar dan tinja berwarna hitam karena kandungan zat besi, orang tua tak perlu khawatir. Efek samping itu, kata Ivonne, bisa diatasi dengan minum air putih lebih banyak. 



Baca juga
  » 15 September 2014
Daftarkan Bayi Sekolah, Perlukah?
Belum juga setahun usia anak, tapi banyak orang yang menyarankan Anda untuk memasukkannya ke sekolah bayi.

  » 15 September 2014
Bayi Nyaman Belajar di Kelas
Sudah mendaftarkan bayi Anda di sekolah? Bantu ia untuk merasa nyaman dan berpartisipasi dalam kegiatan kelas.

  » 15 September 2014
Kegiatan Eksplorasi Bayi
Pada usia 5 hingga 8 bulan anak mulai memiliki postur duduk yang baik, saat inilah anak akan mulai untuk mencoba bersandar dan meraih.

  » 18 Agustus 2014
Ajarkan Arti Berbagi pada Anak
Ajak bicara Meski si kecil baru mau masuk TK, misalnya, bukan berarti ia belum bisa diajak bicara soal apa perlunya berbagi.

  » 18 Agustus 2014
Fungsi Buah dan Sayur bagi Anak
Apakah anak Anda sulit diajak minum air putih? Kalau iya, Mama bisa mengganti kebutuhan cairan anak dengan memberinya buah-buahan seperti pir, semangka, atau jeruk.